Selasa, 3 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brkbitung.orgbrkbitung.org
brkbitung.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Tiap ke Bandung Dompet Jebol, Ternyata Ini Pola Bo...

Tiap ke Bandung Dompet Jebol, Ternyata Ini Pola Borosnya

Sering traveling tapi uang selalu habis di jalan? Ini pola boros yang gue temuin dari pengalaman sendiri dan cara ngefix-nya.

Tiap ke Bandung Dompet Jebol, Ternyata Ini Pola Borosnya

Gue bukan orang yang gampang bocor dompetnya di rumah. Makan di rumah terkontrol, langganan streaming cuma dua, dan gue bisa seminggu tanpa jajan kopi mahal. Tapi begitu kaki nginjak terminal atau bandara, ada sesuatu yang berubah. Dompet jadi kayak punya nyawa sendiri, dan tiap kali balik dari perjalanan, gue selalu bertanya-tanya: uang gue ke mana, sih?

Ini bukan sekali dua kali. Dulu gue sempat mikir itu wajar, namanya juga liburan. Lama-lama gue sadar, yang bikin jebol bukan tiket atau hotel. Yang bikin jebol justru hal-hal kecil yang gue lakukan tanpa mikir, dan itu terjadi berulang dengan pola yang sama persis tiap perjalanan.

Baca juga: 7 Hari Atur Keuangan buat Pemilik Usaha Kecil, Anti Boncos!

Jajan di tempat wisata itu jebakan yang gue ulang terus

Gue inget banget waktu ke Bandung. Rencananya cuma jalan-jalan santai tiga hari. Tiket kereta udah dibeli jauh-jauh hari, penginapan udah lunas, jadi di kepala gue sisa uang tinggal buat makan dan jajan. Kenyataannya, gue balik dengan dompet yang lebih tipis dari perkiraan.

Kenapa? Karena tiap kali lewat warung oleh-oleh, gue beli. Tiap kali lihat kedai kopi kekinian di pinggir jalan, gue mampir. Tiap kali ada penjual jagung bakar di tempat wisata, gue beli tanpa nanya harga. Satu-satunya yang gue inget: semuanya "cuma" dua puluh ribu, "cuma" tiga puluh ribu. Tapi kalau dijumlah sepuluh kali, ya jadi dua ratus ribu lebih.

Masalahnya bukan harga satuannya. Masalahnya frekuensinya. Dan frekuensi itu yang nggak pernah gue itung.

Pelajaran pertama yang gue dapet: di tempat wisata, harga selalu naik dua sampai tiga kali lipat dari harga normal, dan gue selalu nggak sadar karena yang gue lihat cuma angka kecilnya. Sejak itu gue mulai nyatet setiap pengeluaran jajan di catatan HP. Nggak rapi, cuma baris-baris singkat. Tapi cukup bikin gue kaget sendiri di hari kedua.

Uang yang "sengaja disiapin" malah bikin boros

Dulu gue punya kebiasaan aneh: sebelum berangkat, gue sengaja bawa uang tunai lebih banyak dengan alasan "buat jaga-jaga". Logikanya, kalau ada darurat, gue nggak kerepotan. Kenyataannya, uang jaga-jaga itu selalu kepakai buat hal yang nggak darurat sama sekali.

Ada uang lebih di dompet, otak gue langsung mikir, "ya udah, beli ini deh, kan masih ada sisa." Uang tunai yang nganggur itu kayak undangan buat belanja. Gue udah ngalamin berkali-kali, dan hasilnya selalu sama: uang habis, tapi nggak ada barang penting yang gue beli.

Sekarang gue ubah caranya. Uang tunai yang gue bawa pas-pasan buat kebutuhan yang udah gue rencanain. Sisanya gue simpen di rekening terpisah yang nggak gue sentuh kecuali beneran darurat, misalnya sakit atau kendaraan rusak. Kalau butuh transfer, butuh usaha ekstra, dan usaha ekstra itu yang bikin gue mikir dua kali sebelum belanja hal nggak perlu.

Cara gue mecah budget perjalanan jadi tiga pos

Ini yang paling ngebantu gue sampai sekarang. Sebelum berangkat, gue bagi uang perjalanan jadi tiga pos terpisah:

  • Pos wajib — transportasi, penginapan, makan pokok. Ini nggak bisa diganggu gugat.
  • Pos seneng-seneng — jajan, kopi, oleh-oleh, tiket masuk tempat wisata. Ada batasnya, dan kalau habis ya habis.
  • Pos darurat — nggak disentuh kecuali beneran kepepet. Kalau nggak kepakai, balik ke tabungan.

Kuncinya, pos seneng-seneng itu jumlahnya tetap dan nggak boleh diisi ulang dari pos lain. Awalnya berat, karena rasanya kok dibatasi banget. Tapi setelah dua-tiga perjalanan, gue justru lebih tenang. Nggak ada lagi rasa bersalah di akhir trip karena uang habis buat hal yang nggak gue inget.

Rekap pengeluaran itu nggak harus ribet

Gue pernah coba aplikasi keuangan yang fiturnya lengkap banget. Hasilnya? Gue capek sendiri, berhenti di minggu kedua, dan balik ke kebiasaan lama. Terlalu banyak kategori, terlalu banyak isian, dan gue nggak sabar.

Yang akhirnya nempel justru versi paling sederhana: satu catatan di HP, isinya baris-baris pengeluaran dengan tanggal dan nominal. Nggak ada kategori, nggak ada grafik. Setiap malam sebelum tidur, gue luangkan dua menit buat nulis. Itu aja.

Dari catatan sederhana itu, gue jadi bisa lihat pola. Ternyata pengeluaran terbesar gue di perjalanan bukan makan besar, tapi jajan-jajan kecil yang frekuensinya tinggi. Fakta itu yang akhirnya ngubah cara gue bawa uang dan cara gue belanja di jalan. Nggak mungkin gue sadar tanpa nyatet.

Yang paling penting: berhenti nyalahin diri, mulai lihat polanya

Dulu tiap balik dari perjalanan dan lihat saldo tipis, gue selalu nyalahin diri sendiri. "Gue bodoh banget sih boros gini." Tapi nyalahin diri nggak pernah ngubah apa-apa. Yang ngubah justru waktu gue mulai penasaran: sebenarnya uang gue bocor di bagian mana?

Jawabannya selalu ada di pola, bukan di satu kejadian besar. Jajan di tempat wisata, uang tunai nganggur, dan nggak pernah nyatet. Tiga hal itu yang berulang tiap perjalanan. Begitu gue sadar, gue bisa benerin satu-satu, tanpa harus jadi orang pelit yang nggak bisa nikmatin liburan.

Kalau kamu sering bepergian dan ngerasa dompet selalu tipis padahal udah nabung, coba deh cek pola pengeluaranmu di perjalanan terakhir. Mungkin bukan soal rezeki atau harga tiket yang mahal. Mungkin cuma soal kebiasaan kecil yang kamu ulang tanpa sadar, sama kayak gue dulu.

Tags: keuangan pribadi atur pengeluaran traveling hemat budget perjalanan pengalaman pribadi